Wednesday, 3 July 2013

BAGAIMANA MAHU SAMPAI?

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


kredit to syeraho


update lagi. rajin betul nak update ye sekarang. haha.


sebenarnya bukak blog dengan niat nak buat sesi tadabbur yang pertama. tapi teringat blog ni sedang di stalk oleh orang hebat *ehem*. tunggu orang tu benti stalk dulu la deh? haha. (ana segan laaa dengan enti. :P)

melalut.

jalan2 di laman sesawang indon, kabarpks.com. dan terjumpa satu post yang sangat menyentapkan.

ini adalah kopi dan pasta nya tapi dengan sedikit perubahan supaya lebih mudah untuk difaham oleh kalian.


*******************

"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam.

Sang murobbi hanya terdiam, mencuba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya.

"Lalu apa yang ingin enta lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.

"Ana ingin berhenti saja. keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana lalui sendiri saja." Jawab mad'u itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampat raut terkejut dari raut wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali enta naik sebuah kapal mengharungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat usang. Layarnya dan kayunya banyak yang berlubang. bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan enta lalukan untuk tetap sampai pada tujuan?" Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajan melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah enta memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan?" Sang murobbi memberi opsi. "Bila enta terjun ke laut, sesaat enta akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan enta untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang. Darimana enta mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana enta mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad'u. sudah pasti, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian.

Kekecewaannya memuncak, namum sang murobbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keiinginannya.

"Akhi, apakah enta masih merasa bahwa jalan dakwah adalah yang paing utama menuju ridho Allah? Bagaimana bila ternyata mobil yang enta kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata rosak? enta akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu terbiar di atas jalan, atau mencoba memperbaikinya?" Tanya sang murobbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam salam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; "Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan ana.. ana akan tetap istiqomah. ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan  hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana." Sang mad'u berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sag murobbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah. Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan enta. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata enta dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu enta lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk memperbaiki masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya. Yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah. Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil, tidak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu atau gosip, tutuplah telinga dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil terhadap saudara sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliannya."


*******************

Satu artikel yang saya kira agak ringkas, tapi sangat padat.

Bila berlayar di atas kapal yang sangat usang seperti yang disebut, apa yang saya akan lakukan. saya ada tiga jawapan untuk soalan itu.

satu - andai kata destinasi yang ingin dicapai adalah dekat, ya, saya akan terjun. yes, risikonya tinggi, but why not? :P

dua - bina rakit dengan apa yang ada.

tiga - perbaiki kapal itu semampu mungkin. atas perjalanan yang panjang ini, dan dengan matlamat yang tinggi, kita perlu ada asas yang kukuh. bagaimana mahu menegakkan khilafah jika ummah masih berjiwa kosong?

saya lebih cenderung untuk yang ketiga. :)

saya percaya, setiap manusia ada hadaf masing2. ada tujuan, ada matlamat. maka tanyalah diri sendiri, apa yang telah dilakukan untuk mencapai hadaf itu. sudahkah kita bermula? atau masih teragak2? planning dah buat?

bagaimana caranya untuk kita sampai ke destinasi dengan selamat?

putar2kan lah soalan itu dalam kotak minda kalian.





signing off,

S.U.

No comments: